Jumat, 13 November 2015

Pramuka sebagai wadah pemersatu generasi penerus


Perbedaan di dunia ini tidak saja dalam fisik dan bahasa
tetapi juga dalam pikiran dan perasaan.
Jambore telah mengajarkan kita untuk saling memberi dan menerima sehingga timbul rasa simpati dan keharmonisan
 (LORD BADEN POWELL )
Revolusi ” Megamedia” yang terjadi pada akhir Milenium II setelah ditemukannya teknologi multimedia dan teknologi digital, serta dikombinasikannya penggunaan teknologi informasi, telekomunikasi dan hiburan, membuat dunia ini menjadi “bumi yang kecil” , jarak, ruang dan waktu tidak lagi menjadi perintang hubungan. Peristiwa yang terjadi disatu tempat, hanya dalam bilangan detik sudah dapat tersebar dan diketahui oleh penduduk di suatu negara yang beribu-ribu mill jauhnya.
Menggunakan teknologi informasi dan telekomunikasi canggih, ibarat kita menggunakan pisau bermata dua. Satu sisi, kita dapat mencari dan mendapatkan informasi secara akurat dalam sekejap, sehingga tidak mudah terkejut dan senantiasa siap menghadapi  perubahan. Di sisi yang lain, dengan hilangnya dinding pembatas negara (borderless), maka nilai-nilai dan budaya suatu bangsa yang tidak cocok dan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai dan budaya kita pun, setiap saat secara leluasa dapat menerobos rumah kita melalui televisi dan internet.
Tawuran pelajar yang belakangan ini kembali marak , dan puluhan remaja (baca: generasi penerus bangsa) tewas secara sia-sia, serta kenakalan remaja  seperti kebut-kebutan di jalan raya,  seks “superbebas”, serta penyalahgunan narkotika dan zat adiktif lainnya , adalah contoh dari masuknya pengaruh negatif kesejagatan (globalisasi) yang dibawa oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi . Apabila kita tidak arif dan bijaksana mensikapinya,maka gejala-gejala terkikisnya kepribadian, merenggangnya rasa persatuan dan kesatuan, serta lmerosotnya semangat nasionalisme, heroisme dan patriotisme semakinmewabah.Dan apabila hal ini tidak ditangani secara serius maka akan berkembang  menjadi malapetaka  bangsa yang sangat dahsyat.
Dalam konteks inilah, Gerakan Pramuka diharapkan dapat memainkan peran luhurnya dalam membentengi generasi muda dari rongrongan nilai-nilai dan budaya negatif bangsa lain yang datang bersamaan dengan datangnya arus globalisasi, serta mampu menjadi wadah pemersatu bagi generasi penerus.
GENERASI “SUPERWORKER”
Generasi Penerus, adalah ahli waris dan pemilik sah masa depan bangsa. Generasi seperti apakah yang kita inginkan?. Generasi baru yang kuat keyakinan beragamanya, tinggi mental dan moralnya, berjiwa Pancasila, sehat, segar dan kuat jasmaninya, berpengetahuan luas dan dalam, memiliki jiwa kepemimpinan dan patriot, berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan, serta berpengalaman luas. Generasi yang menyadari bahwa hakekatnya kita beraneka suku, agama, bahasa, adat istiadat,namun tetap satu ( bhineka tunggal ika). Generasi yang memegang teguh Sumpah Pemuda : Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa – Indonesia. Generasi yang memiliki visi jauh ke depan, namun tidak melupakan masa lalu. Generasi yang tidak kalis (steril) terhadap kemajuan dan selalu siap menghadapi perubahan, namun tidak melupakan jati diri dan kepribadiannya sebagai manusia Indonesia. Generasi yang memiliki loyalitas dan dedikasi tinggi pada masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Generasi “Superworker”.
GERAKAN PRAMUKA
Tiga puluh delapan tahun lalu, tepatnya 14 Agustus 1961, di halaman Istana Merdeka Jakarta diselenggarakan Apel Besar Pramuka. Acara ini didahului dengan pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Kwartir Nasional (Kwarnas) dan Kwartir Nasional Harian (Kwarnari) oleh Presiden Soekarno dan dilanjutkan dengan defile oleh sekitar 10.000 anggota pramuka. Peristiwa bersejarah dimana untuk pertama kalinya  Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat luas ini, diabadikan dan diperingati sebagai “Hari Pramuka”.
Kelahiran Gerakan Pramuka, merupakan sebuah proses yang panjang dan berliku. Pada tahun 1960, jumlah perkumpulan kepanduan di Indonesia sangat banyak. Sebut saja : “Hizbul Wathon”, Pandu Ansor , Syarikat Islam Angkatan Pandu (SIAP), Pandu Rakyat Indonesia, Kepanduan Bangsa Indonesia, dan lain-lain. Jumlah tersebut dinilai tidak sepadan dengan jumlah seluruh anggota perkumpulan kepanduan, sehingga pendidikan kepanduan pada waktu itu dirasakan tidak memberikan daya guna dan hasil guna yang optimal.
Ketetapan MPRS nomor II/MPRS/1960 tanggal 3 Desember 1960 tentang Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana antara lain menyatakan bahwa dasar pendidikan dibidang kepanduan adalah Pancasila (Pasal 330 C), Penertiban tentang kepanduan (Pasal 741), dan pendidikan kepanduan supaya diintensifkan , dan menyetujui rencana pemeritah untuk mendirikan Pramuka (Pasal 349 Ayat 30).
Atas Ketetapan MPRS nomor II/1960 tersebut, Presiden/Mandataris MPRS pada tanggal 9 Maret 1961 mengumpulkan tokoh-tokoh pemimpin gerakan kepanduan Indonesia di Istana Negara Jakarta. Dalam kesempatan itu Presiden berpesan agar kepanduan yang ada diperbaharui, metode dan aktivitas pendidikan harus diganti, seluruh organisasi kepanduan yang ada dilebur menjadi satu yang disebut Pramuka.Presiden juga menunjuk panitia yang beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Menteri P dan K Prof. Prijono, Menteri Pertanian Dr. A. Azis Saleh, Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pengembangan Masyarakat Desa . Achmadi, (dan Menteri Sosial Muljadi Djojo Martono) dengan tugas mempersiapkan pembentukan Gerakan Pramuka . Panitia inilah yang kemudian mengolah Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, sebagai lampiran Keputusan Presiden RI nomor 238 tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961 tentang “Gerakan Pramuka”.
NASIONAL, INTERNASIONAL, UNIVERSAL
Resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia tahun 1924 di Kopenhagen, Denmark menegaskan, kepramukaan  bersifat: (1)nasional (penyelenggaraan pendidikan kepramukaan disesuaikan dengan keadaan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat, bangsa dan negara), (2) internasional (organisasi kepramukaan di negara mana pun di dunia harus membina dan mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antara sesama pramuka dan sesama manusia, tanpa membedakan kepercayaan/agama, golongan, tingkat, suku dan bangsa), (3) universal(kepramukaan dapat dipergunakan dimana saja untuk mendidik anak-anak dari bangsa apa saja, yang dalam pelaksanaan pendidikannya selalu menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan).
Kepramukaan, mempunyai fungsi  sebagai : (1) kegiatan menarik bagi anak-anak dan pemuda (kegiatan yang menyenangkan dan mengandung pendidikan, bukan sekedar main-main yang bersifat hiburan belaka), (2) pengabdian bagi orang dewasa (bagi orang dewasa kepramukaan bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan, kerelaan danpengabdian.Orang dewasa mempunyai kewajiban untuk secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya pencapaian tujuan organisasi), (3) alat bagi masyarakat dan organisasi  (kepramukaan merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dan juga bagi organisasi untuk mencapai tujuan. Jadi kegiatan kepramukaan yang diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat saja, dan bukan tujuan pendidikannya)
Tugas pokok Gerakan Pramuka, menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia , sehingga dapat terbentuk kader-kader pembangunan yang berjiwa Pancasila dan mampu menyelenggarakan pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam melaksanakan pendidikan kepramukaan, Gerakan Pramuka selalu memperhatikan keadaan, kemampuan , kebutuhan dan minat pesertadidiknya.Dalam pelaksanaan kegiatannya, Gerakan Pramuka menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, sistem among dan berbagai metode penyajian lainnya. Para Pramuka mendapat pembinaan dalam satuan gerak sesuai dengan usia dan bidang kegiatannya dengan mengikuti ketentuan pada Syarat Kecakapan Umum, Syarat Kecakapan Khusus dan Syarat Pramuka Garuda.
SIAGA, PENGGALANG, PENEGAK, PANDEGA
Romantika perjuangan besar bangsa Indonesia, diabadikan pada peristilahan Gerakan Pramuka, yaitu : anak didik usia 7-10 tahun disebut Siaga, usia 11-15 tahun disebutPenggalang, usia 16-20 tahun disebut Penegak, dan usia 21-25 tahun disebut Pandega. Orang dewasa yang memimpin Pramuka disebut Pembina, sedangkan anggota Kwartir disebut Andalan.
Sesuai dengan tingkat kecakapan yang dicapai oleh seorang Pramuka, maka istilah-istilah tersebut ditambah belakangnya menjadi : Siaga Mula, Siaga Bantu, Siaga Tata, Penggalang Ramu, Penggalang Rakit, Penggalang Terap, Penegak Bantara, Penegak Laksana.Pandega, hanya ada satu tingkat.
Prinsip dasar metode pendidikan kepramukaan, berbeda dengan metode pembelajaran di sekolah. Lord Baden Powell sebagai penemu pendidikan kepramukaan, telah menyusun prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan , yang harus diterapkan secara menyeluruh.Bila sebagian dari prinsip uitu dihilangkan, maka organisasi itu bukan lagi gerakan  pendidikan kepramukaan. Dalam Anggaran Dasar Gerakan Pramuka dinyatakan, prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan adalah : (1) Kesukarelaan, (2) Kode kehormatan, (3) Sistem beregu, (4) Sistem satuan terpisah (untuk anggota putera dan anggota puteri), (5) Sistem tanda  kecakapan, (6) Kegiatan menarik yang mengandung pendidikan, (7) Penyesuaian dengan perkembangan rohani dan jasmani, (8) Keprasahajaan, dan (9) Swadaya. Usaha Gerakan Pramuka untuk mencapai tujuannya itu harus mengarah pada pengembangan dan pembinaan watak, mental, jasmani, dan rohani, bakat, pengetahuan, pengalaman, dan kecakapan pramuka, melalui kegiatan yang dilakukan dengan praktik secara praktis, dengan menggunakan sistem among dan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan.Sistem among adalah sistem pendidikan yang dilaksanakan dengan cara memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk dapat bergerak dan bertindak leluasa, dengan sejauh mungkin menghindari unsur-unsur perintah, keharusan, paksanaan  dengan maksud untuk menumbuhkan dan mengembangkan rasa percaya diri sendiri, kreativitas dan oto-aktivitas sesuai dengan aspirasi peserta didik.
PRAMUKA WADAH PEMERSATU
Pramuka sebagai wadah pemersatu generasi penerus, adalah fakta yang tidak perlu kita ragukan. Pemupukan rasa persatuan dalam wadah Pramuka itu tidak saja dilakukan selama latihan-latihan , tetapi juga dalam forum-forum  pertemuan Pramuka seperti : Pramuka Siaga  ”Pesta Siaga”  (Tingkat Cabang,  Kecamatan, dan Desa), Pramuka Penggalang “Jambore” (tingkat Nasional, Daerah, Cabang, dan  Ranting/Kecamatan), Pramuka Penegak/Pandega : “Perkemahan Wirakarya”(PW- Forum pertemuan bagi Pramuka Penegak/Pandegadari berbagai satuan – Ambalan dan Satuan Karya/Saka), Raimuna (Perkemahan Pramuka Penegak/Pandega Puteri), Muspanitra (Musyawarah Penegak dan Pandega Puteri- Putera) , Pesta Karya (pertemuan khusus bagi Pramuka Penegak/Pandega anggota Satuan Karya/Saka). Pesta Karya (ada lima Pesta Karya, sesuai dengan Satuan Karya/Saka yang ada yaitu : Pesta Karya Taruna Bumi, Dirgantara, Bhayangkara, Bahari dan Wanabhakti) .Pesta Karya diselenggarakan oleh Kwartir Nasional (TAKANAS),oleh Kwartir Daerah (TAKADA), oleh Kwartir Cabang (TAKACAB) dan oleh Kwartir Ranting (TAKARAN). Dalam Pesta Karya tersebut, berbagai lomba ketrampilan/kecakapan yang sesuai dengan kekaryaan masing-masing dilakukan, disamping dipamerkan berbagai kegiatan kekaryaan masing-masing Saka, seperti usaha peternakan lebah madu (apiari) dari Saka Wanabhakti, partisipasi pada Gerakan Mandiri Padi, Kedelai dan Jagung 2001 (Palagung 2001) dari Saka Tarunabumi, dan lain-lain. Forum-forum pertemuan Pramuka tersebut, baik berupa musyawarah maupun perkemahan, tujuan utamanya adalah memupuk persatuan dan kesatuan generasi muda, utamanya anggota Gerakan Pramuka.
Apa yang telah dan akan dilakukan oleh Pramuka Indonesia, bila kita hayati benar, merupakan pengejawantahan dari pesan Bapak Kepramukaan Dunia Lord Baden Powell, pada penutupan Jambore I Pramuka se Dunia di Olympia, London tahun 1920 : Perbedaan di dunia ini tidak saja dalam fisik dan bahasa tetapi juga dalam pikiran dan perasaan . Jambore telah mengajarkan kita untuk saling memberi dan menerima sehingga timbul rasa simpati dan keharmonisan. Jika itu harapan Anda, mari kita bangun rasa persahabatan dalam diri kita dan putera-puteri kita melalui persaudaraan ini  (pramuka), sehingga kita dapat memberi andil bagi kedamaian dan kebahagiaan dunia serta  rasa cinta kasih antara sesama  manusia.
REORIENTASI GERAKAN  PRAMUKA
Jumlah anggota Gerakan Pramuka di seluruh Indonesia saat ini diperkirakan kurang lebih 22 juta orang, 90 persen diantaranya peserta didik, dan 10 persen selebihnya anggota dewasa. Secara kuantitatif, jumlah tersebut merupakan potensi besar yang dapat diarahkan dan diberdayakan menjadi kader-kader pembangunan dan pemimpin bangsa di masa depan. Satu hal yang barangkali masih perlu mendapatkan perhatian lebih adalah peningkatan kualitas peserta didik. Sejauh yang kita tahu, basis pendidikan kepramukaan adalah di sekolah (SD/Madrasah Ibtidaiyah,SLTP/ Madrasah Tsanawiyah, SMU, SMK/Madrasah Aliyah dan lain-lain). Bahkan banyak sekolah, menempatkan pendidikan kepramukaan sebagai salah satu kegiatan ekstra kurikuler. Inilah “salah kaprah” yang membuat Pendidikan Kepramukaan menjadi rancu dengan Pendidikan Sekolah. Dari tujuan maupun sistem dan metodik pendidikannya, jelas berbeda. Pendidikan di sekolah, bertujuan meningkatkan kemampuan intelegensia dan emosi anak-anak, dengan metode belajar-mengajar. Guru menjadi pengajar, dan melakukan evaluasi hasil pembelajaran (THB/EBTA/EBTANAS). Pendidikan kepramukaan, bertujuan membina dan mengembangkan watak, mental, jasmani, rohani, bakat , pengetahuan, pengalaman dan kecakapan pramuka  melalui kegiatan yang dilakukan dengan praktik secara praktis. Pramuka dewasa tidak berperan sebagai Guru sebagai mana pendidikan sekolah, tetapi sebagai pendamping (fasilitator). Peserta didik diberikan keleluasaan sepenuhnya untuk mengembangkan kreativitas dan kemandiriannya. Evaluasi dilakukan melalui sistem Kecakapan Umum dan Sistem Tanda Kecakapan.
Agar pendidikan kepramukaan lebih tepat guna dan berhasil guna, Kwartir Nasional nampaknya perlu melakukan terobosan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan guna “meluruskan  kembali” peran masing-masing lembaga tersebut. Melalui pendekatan yang komprehensif, diharapkan pendidikan kepramukaan menjadi lebih jelas peran pentingnya dalam membina dan mengembangkan watak anak-anak dan pemuda.
“Baden Powell Plus”, barangkali inilah yang diperlukan Gerakan Pramuka dalam menyongsong  Milenium III. Milenium khusus, yang menurut para pakar mampu mengubah peradaban dunia dengan  munculnya revolusi “Megamedia” dipenghujung Milenium II. Untuk itu Gerakan Pramuka harus berusaha dengan cepat dan cermat  untuk lebih mengembangkan dan menyempurnakan pendidikan kepramukaan, dalam arti  tidak melenceng dari pakem yang telah ada, namun selalu diperbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan kemajuan.
Pemanfaatakan Internet oleh Kwartir Nasional  dan Kwartir-Kwartir Daerah sebagai salah satu sarana komunikasi, merupakan langkah yang sangat kita hargai. Melalui “Pramuka-Net “ (http://www.pramuka.org), dapat dilakukan komunikasi secara vertikal antara Kwartir Nasional dengan Kwartir-Kwartir Daerah, komunikasi horisontal antara Kwartir Daerah dengan Kwartir Daerah yang lain, antara sesama anggota Gerakan Pramuka, maupun antara Pramuka Indonesia dengan Pramuka-pramuka dari negara lainnya di dunia.Di dunia akepramukaan internasional, homepage resmi Gerakan Pramuka telah diakui, bahkan kegiatan-kegiatan tim  ”Pramuka-Net” di forum internasional sering mendapatkan pujian dari Pramuka negara lain. Melalui korespondensi secara interaktif dengan rekan-rekan Pramuka dari negara lain itu pula Pramuka Indonesia  ikut ambil bagian dalam upaya memupuk rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan serta rasa senasib sepenanggungan sebagai keluarga besar”generasi baru dunia”.
Gerakan Pramuka sudah waktunya melakukan restrukturisasi dan reorientasi , agar gerakannya  dapat lebih “lincah” dan lebih mandiri (independen). Secara struktural, keberadaan Presiden sebagai Pramuka Tertinggi , serta Majelis Pembimbing Nasional , Majelis Pembimbing Daerah , Majelis Pembimbing Cabang,  Majelis Pembimbing Ranting , Majelis Pembimbing Desa/Kelurahan, adalah kalangan birokrat, namun keberadaan aparat pemerintah dalam Majelis Pembimbing tersebut, semata-mata sebagai ” sponsoring board” – badan penunjang, yang menyediakan dukungan dana dan fasilitas yang diperlukan bagi pendidikankepramukaan.Namun, para Andalan yang duduk  dalam Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang, dan Kwartir Ranting, benar-benar orang-orang yang independen, yaitu tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian tinggi pada pembinaan dan pengembangan generasi muda, dan relawan-relawan yang punya perhatian besar pada masalah-masalah kepramukaan. Dengan demikian, maka para andalan di berbagai tingkatan tersebut, dapat mencurahkan  tenaga dan pikirannya bagi kemajuan peserta didik pada khususnya, serta kemajuan Gerakan Pramuka pada umumnya.
Promosi kegiatan Pramuka perlu lebih digencarkan lagi, baik melalui media internal seperti Majalah Pramuka dan Pramuka-Net, maupun melalui media masa nasional maupun lokal, dalam upaya menggugah minat generasi muda untuk  membina watak dan kepribadian yang tangguh, melalui Gerakan Pramuka.
Sekaranglah saatnya Gerakan Pramuka menampilkan iklan-iklan layanan masyarakat yang “menjual”(memiliki selling point tinggi) , ditangani oleh artis-artis idealis macam Garin Nugroho , Mira Lesmana, atau yang lainnya . Terlebih lagi dengan diberlakukannya Undang-undang tentang Penyiaran, yang mewajibkan media masa (cetak maupun elektronik) untuk menyediakan ruang  (space) khusus bagi iklan layanan masyarakat – termasuk iklan-iklan layanan masyarakat tentang Pramuka.
Melalui upaya-upaya yang terarah dan terencana dengan baik, kita yakin Gerakan Pramuka akan semakin kukuh keberadaannya sebagai wadah pemersatu generasi muda- generasi penerus bangsa.
Salam Pramuka,,,

Presiden dan Wakil Presiden Indonesia dari awal sampai sekarang

Presiden sekaligus sebagai kepala pemerintahan karena sejatinya Indonesia menganut sistem Presidensial. Berikut adalah nama serta biografi singkat para pemimpin yang pernah menjadi orang No. 1 dan No. 2 di Republik Indonesia dari masa ke masa sejak tanggal 18 Agustus 1945 sampai dengan sekarang.

1. Tahun 1945 – 1967

  • Presiden         :  Ir. Soekarno (Presiden I Republik Indonesia)
Presiden Pertama RI adalah Proklamator kemerdekaan RI, Dwitunggal bersama Bung Hatta. Ir soekarno atau yang lebih akrab dipanggi Bung Karno lahir di Blitar, Jawa Timur pada 6 Juni 1901. Lulus sebagai Insinyur di ITB Bandung. Semenjak masih kuliah sudah aktif berjuang melawanpenjajah, untuk kemerdekaan bangsanya. dan pada tanggal 18 Agustus diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia.
  • Wakil Presiden :  Drs. Mohammad Hatta (Wakil Presiden I Republik Indonesia)
Drs. Mohammad Hatta atau yang lebih akrab di sapa dengan Bung Hatta lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukir Tinggi, Sumatera Barat. Pernah belajar disekolah tinggi ekonomi di negeri Belanda. Pernah menjadi Ketua PNI Baru di Bandung. Pada 17 Agustus 1945 memproklamirkan kemerdekaan RI bersama Bung Karno dan pada tanggal 18 Agustus 1945 Bung Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

2. Tahun 1967 – 1973

  • Presiden          :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto (Presiden II Republik Indonesia)
Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto lahir di Kesumuk, Argomulyo,Yogyakarta pada 8 Juni 1921, menyelesaikan Skolah Bintara di Gombong, Jawa Tengah 1941. Menjai Anggota TNI pada tanggal 5 Oktober 1945. karier militernya mononjol mulai dengan peranannya menghadapi Agresi Belanda dengan serangan umum Yogyakarta. dan pada saat Indonesia merebut Irian Barat dipercayakan sebagai Panglima Mandala/ Pembebasan Irian Barat(1962-1963). pada sidang MPRS Tahun 1967, Soeharto diberikan mandat sebagai Presiden Republik Indonesia.
  • Wakil Presiden :  –

3. Tahun 1973 – 1978

  • Presiden          :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto (Presiden III Republik Indonesia)
  • Wakil Presiden :  Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Wakil Presiden II RI)
Sri sultan Hamengkubuwono IX lahir di Yogyakarta, 12 April 1912. Pernah mengikuti kuliah di Rijkuniversiteit, Belanda. Ia, merupakan salah satu Raja Jawa yang menetang panjajahan Belanda secara terang-terangan, dan mendukung kemerdekaan Indonesia. sejak Tahun 1946 menduduki jabatan sebagai Menteri kabinet. pada tahun 1966 menjadi Menteri Utama di bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri.pada Tahun 1973 diangkat sebagai Wakil Presiden RI.
  1. Tahun 1978 – 1983
  • Presiden           :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto
  • Wakil Presiden  :  H. Adam Malik (Wakil Presiden III Republik Indonesia)
Adam Malik lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara tanggal 22 Juli 1917. Dikenal sebgai tokoh Wartawan terkemuka. Pada tahun 1971 mendirikan kantor berita Antara di Jakarta. Adam Malik aktif di dunia politik, mendirikan Partai Rakyat dan Partai Murba(1946 – 1958). Menjadi anggota parlemen di DPA dan dilantik Menjadi Wakil Presiden RI pada 23 Maret 1978.

5. Tahun 1983 – 1988

  • Presiden           :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto
  • Wakil Presiden  :  Jenderal (Purn) Umar Wirahadikusumah (Wakil Presiden IV RI)
Jenderal (Purn) Umar Wirahadikusumah lahir pada tanggal 1 Oktober 1924 di Situraja, Sumedang, Jawa Barat. Mendapat pendidikan ketentaraan sejak zaman Jepang di Seinendojo, Tangerang (Jawa Barat) dan Peta(Pembela Tanah Air) di Bogor, Jawa Barat. Membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Cicalengka. Beliau diangkat menjadi Wakil Presiden RI pada tahun 1983.

6. Tahun 1988 – 1993

  • Presiden            :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto
  • Wakil Presiden  :  Letjend (Purn) Sudharmono, S.H. (Wakil Presiden V RI)
Letjen (Purn) Sudharmono, S.H. lahir di Cerme, Gresik, Jawa Timur pada tanggal 12 Maret 1927. menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum UI (1926). Pernah menjadi Jaksa Tentara tertinggi di Medan, Jaksa Tentara merangkap perwira staf Penguasa Perang Tertinggi. Ia juga pernah menjabat Menteri Sekretaris Kabinet merangkap Sekretaris Dewan Stabilitas Kabinet merangkap Sekretaris Dewan Stabilitas Ekonomi, Ketua Umum Golkar (Golongan Karya), serta menjadi Wakil Presiden RI Periode 1988-1993.

7. Tahun 1993 – 1998

  • Presiden           :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto
  • Wakil Presiden  :  Jenderal (Purn) Try Sutrisno (Wakil Presiden VI RI)
Jenderal (Purn) Try Sutrisno lahir pada tanggal 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur.masukAkademi Militer Angkatan Darat (Atekad) pada tahun 1955. Berperan dalam Operasi Pemberantasan DI/ TII di Aceh tahun 1957, pembebasan Irian Barat 1962, Penumpasan G 30 S/PKI. Ia juga pernah menduduki beberapa jabatan penting hingga menjadi ajudan Presiden Soeharto (1974 – 1978). Pada tahun 1988 menjabat Panglima ABRI. serta pada tahun 1993 terpilih menjadi Wakil Presiden RI Periode 1993-1998.

 8. Tahun 1998

  • Presiden           :  Jenderal (Purn) TNI. H. M. Soeharto
  • Wakil Presiden  :  Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie (Wakil Presiden VII RI)

9. Tahun 1998 – 1999

  • Presiden           :  Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie (Presiden III Republik Indonesia)
Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie lahir pada tanggal 25 Juni 1936 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Menyelesaikan kuliah di Bandung, dilanjutkan ke Jerman di Technische Hochehule, Achen Jerman, dan lulus cumlaude untuk jurusan konstruksi pesawat terbang. Diploma Ing. diperoleh tahun 1960, gelar Dr. Ing. dengan predikat summa sumlaude di tahun 1965. dan pada 21 Mei 1998 beliau menjadi Presiden RI setelah Soeharto meletakkan jabatannya sebagai Presiden RI serta menjadi akhir dari tirani Orde Baru.
  • Wakil Presiden  :  –

10. Tahun 1999 – 2001

  • Presiden            :  KH. Abdurrahman Wahid (Presiden IV Republik Indonesia)
  1. Abdurrahman Wahid lahir pada tanggal 14 Agustus 1940 di Jombang, Jawa Timur, Pernah mengenyam pendidikan di Al-Azhar Kairo, Mesir. Juga cukup lama studi di Irak. KH. Abdurrahman Wahid atau juga yang lebih akrab disapa dengan Gus Dur dikenal sebagai tokoh NU dan Budayawan, dilantik oleh MPR menjadi Presiden RI pada tanggal 20 Oktober 1999 besama wakilnya Megawati SoekarnoPutri.
  • Wakil Presiden  : Megawati Soekarnoputri (Wakil Presiden VIII RI)

11. Tahun 2001 – 2004

  • Presiden            :  Megawati Soekarnoputri (Presiden V Republik Indonesia)
Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri lahir pada tanggal 23 Januari 1946 di Yogyakarta. Karier Politiknya mencuat setelah menjadi Ketua PDI (Partai Demokrasi Indonesia) melalui musyawarah nasional luar biasa bulan Desember 1993 di Jakarta Menjelang Pemilu 1999, PDI pimpinan Megawati berganti menjadi PDI Perjuangan (PDIP) dan menjadi pemenang dalam pemilu tersebut. kemenangan meraih suara ini mengantarkan Megawati Soekarno Putri sebagai Wakil Presiden RI Periode 1999 – 2004. setelah itu dilantik menjadi Presiden RI pada tanggal 23 Juli 2001 menggantikan KH. Abdurraman Wahid yang ditarik mandatnya oleh MPR pada Sisang Istimewa MPR 2001.
  • Wakil Presiden  :  Prof. Dr. H. Hamzah Haz (Wakil Presiden IX Republik Indonesia)
Prof. Dr. H. Hamzah Haz lahir pada tanggal 15 Februari 1940di ketapang, Pontianak, Kalimantan Barat. pernah menjadi wartawan di Pontianak. Kuliah di Akademi Koperasi Negar Yogyakarta. Melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi Jurusan Ilmu Perusahaan di Universitas Tanjung Pura, Pontianak. setelah mewakili angkatan 66 dan duduk di DPRD Pontianak, Karier politiknya melejit hingga membawanya ke jenjang Menteri, hingga terpilih menjadi Wakil Presiden RI menggantikan Megawati yang naik menjadi Presiden.

12. Tahun 2004 – 2009

  • Presiden            :  Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden VI RI)
Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono atau yang lebih akrab disapa SBY lahir pada tanggal 9 September 1949 di Pacitan, Jawa Timur. SBY menyelesaikan AKABRI pada tahun 1973 dengan pangkat letnan dua. pada waktu pendidikan militer di luar negeri sempat belajar di bidang manajemen di University Missouri AS, dan meraih gelar Master of Arts. Karier politiknya di mulai dengan menjadi Anggota DPR Fraksi Utusan Golongan (1999 – 2004), Menteri Koordinator Bidang Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam) tahun 2000-2004. setelah itu beliau terpilih menjadi Presiden RI periode 2004 – 2009 yang dipilih langsung oleh rakyat.
  • Wakil Presiden  :  M. Jusuf Kalla (Wakil Presiden X Republik Indonesia)
  1. Jusuf Kalla lahir pada tanggal 15 Mei 1942 di Watampone, Sulawesi Tengah. Yusuf Kalla menyelesaikan sekolah dasar di Watampone, SMP dan SMA di Makassar, serta sarjana Ekonomi di Universitas Hasanuddin Makassar, kemudian melanjutkan studi di Prancis. karier politk beliau dimulai sejak menjadi anggota MPR utusan Golkar maupun daerah mulai tahun 1982. setelah itu menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan (1999 – 2000) merangkap sebagai Kabulog. Menteri Koordinator Bidang Kesra pada (2001 – 2004). dan pada tahun 2004 terpilih sebagai Wakil Presiden RI periode 2004 – 2009 bersama dengan Susilo Bambang Yudhoyono.

13. Tahun 2009 – 2014

  • Presiden            :  Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono
  • Wakil Presiden  :  Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec (Wakil Presiden XI RI)
Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec lahir pada tanggal 25 Februari 1943  di Blitar, Jawa Timur. Beliau memperoleh gelar Bachelor of Economics (Hons) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperoleh dari Universitas Monash. pada tahn 1970 mendapatkan gelar S3 (Ph.D) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania. pada tahun 1993, beliau mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dan “Distinguished International Alumnus Award” dari University of Western Australia pada tahun 2007. beliau pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/ Kepla Bappenas, dan Direktur Bank Indonesia, menjadi pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada sebagai guru besar. dan menjabat sebagai Wakil Presiden RI sejak 20 Oktober 2009 saat terpilih bersama Susilo Bambang Yudhoyono.

14. Tahun 2014 – 2019

(Presiden dan Wakil Presiden Periode 2014 – 2019akan dilantik pada 20 Oktober 2014)
Update : 20 Oktober 2014
· Presiden            :  Ir. H. Joko Widodo (Presiden VII RI)
Ir. H. Joko Widodo atau lebih dikenal dengan Jokowi (lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 21 Juni 1961) adalah seorang politikus Indonesia yang saat ini merupakan presiden terpilih Indonesia tahun 2014. Jabatan sebelumnya adalah mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Surakarta (Solo) dari tahun 2005 sampai 2012. Dua tahun sementara menjalani periode keduanya di Solo, Jokowi memasuki pemilihan Gubernur DKI Jakarta bersama dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai wakil gubernur.
Ir. H. Joko Widodo mengenyam perkuliahan di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada dan setelah lulus berhasil menjadi pengusaha furnitur. Pada tahun 2005 Jokowi terpilih menjadi walikota Solo. Namanya mulai dikenal setelah dianggap berhasil mengubah wajah kota Solo menjadi kota pariwisata, budaya, dan batik. Pada tanggal 20 September 2012, Jokowi berhasil memenangkan Pilkada Jakarta 2012.
· Wakil Presiden  :  M. Jusuf Kalla (Wakil Presiden XII RI)

Senin, 09 November 2015

Sejarah Kepramukaan di Indonesia Part II

Sejarah Kepanduan Menjadi Pramuka di Indonesia  pada tulisan kali ini adalah lanjutan dari Serajah Kepramukaan di Indonesia yang sebelumnya telah kita baca. 


Kepramukaan Masa Pasca Perang Kemerdekaan Hingga 1961
  • Setelah pengakuan kedaulatan NKRI, maka mulailah Indonesia memasuki masa pemerintahan yang liberal. Sesuai dengan situasi pemerintahan tersebut maka bermunculan organisasi kepanduan seperti HW, SIAP, Pandu Islam Indonesia, Pandu Kristen, Pandu Katholik, Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan lain-lain.
  • Menjelang tahun 1961, kepanduan Indonesia telah terpecah-pecah menjadi lebih dari 100 organisasi kepanduan, suatu keadaan yang terasa lemah meski tebagi ke dalam 3 federasi organisasi kepanduan; satu federasi kepanduan putra dan dua federasi kepanduan putri:
  • Ikatan Pandu Indonesia (IPINDO), 13 September 1951.
  • Persatuan Organisasi Pandu Putri Indonesia (POPPINDO), 1954.
  • Perserikatan Kepanduan Putri Indonesia.
Keadaan ini membuat lemah organisasi kepanduan, ketiga federasi tersebut melebur menjadi satu federasi: Persatuan Kepanduan Indonesia (PERKINDO). Namun yang masuk dalam federasi ini hanya berkisar 60 buah dari 100 buah organisasi kepanduan, dan hanya berjumlah 500.000 anggota.
Disamping itu, sebagian dari 60 organisasi kepanduan anggota PERKINDO tersebut berada dibawah organisasi politik atau organisasi massa tetap saling berhadap-hadapan berlawanan satu sama lain, sehingga tetap melemahkan gerakan kepanduan Indonesia.
  • Melihat keadaan tersebut, PERKINDO membentuk panitia untuk memikirkan jalan keluarnya. Panitia menyimpulkan bahwa kepanduan lemah dan terpecah-pecah, terpaku dalam cengkeraman gaya lama yang tradisional daripada kepanduan Inggris, pembawaan dari luar negeri. Hal ini berakibat bahwa pendidikan yang diselenggarakan oleh gerakan kepanduan Indonesia belum disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan bangsa dan masyarakat Indonesia, maka ketika itu gerakan kepanduan kurang memperoleh tanggapan dari bangsa dan masyarakat Indonesia. Kepanduan hanya berjalan di kota-kota besar dan di situpun hanya terdapat pada lingkungan orang-orang yang sedikit banyak sudah berpendidikan barat.
  • Kondisi lemah gerakan kepanduan Indonesia dimanfaatkan oleh pihak komunis sebagai alasan untuk memaksa gerakan kepanduan Indonesia menjadi Gerakan Pioner Muda seperti yang terdapat di negara-negara komunis.
  • Kekuatan Pancasila di dalam PERKINDO berusaha menentangnya, dengan bantuan Perdana Menteri Djuanda maka tercapailah perjuangan dengan menghasilkan Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka, pada tanggal 20 Mei 1961 yang ditandatangani oleh
  • Ir. Djuanda selaku Pejabat Presiden RI, karena Presiden Sukarno sedang berkunjung ke negeri Jepang.

Sejarah Pramuka Masa 1961-1999
Dengan Keppres No. 238 Tahun 1961, Gerakan Kepanduan Indonesia mulai dengan keadaan baru dengan nama Gerakan Praja Muda Karana atau Gerakan Pramuka. 
  • Semua organisasi kepanduan melebur ke dalam Gerakan Pramuka, menetapkan Pancasila sebagai dasar Gerakan Pramuka. 
  • Gerakan Pramuka adalah suatu perkumpulan yang berstatus non-governmental (bukan badan pemerintah) yang berbentuk kesatuan. Gerakan Pramuka diselenggarakan menurut jalan aturan demokrasi, dengan pengurus (Kwartir Nasional, Kwartir Daerah, Kwartir Cabang dan Kwartir Ranting) yang dipilih dalam musyawarah. 
  • Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya badan di wilayah NKRI yang diperbolehkan menyelenggarakan kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia; organisasi lain yang menyerupai, yang sama dan sama sifatnya dengan Gerakan Pramuka dilarang adanya. 
  • Gerakan Pramuka bertujuan mendidik anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan yang pelaksanaanya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar menjadi manusia Indonesia yang baik dan anggota masyarakat yang berguna bagi pembangunan bangsa dan negara. 
  • Prinsip-prinsip Dasar Metodik Pendidikan Kepramukaan sebagaimana dirumuskan oleh Baden Powell tetap dipegang, akan tetapi pelaksanaanya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia; dengan menyesuaikan dan diserasikan dengan keadaan dan kebutuhan regional ataupun lokal di masing-masing wilayah di Indonesia ternyata mampu membawa banyak perubahan yang mampu membawa Gerakan Pramuka mengembangkan kegiatannya secara meluas. 
  • Gerakan Pramuka ternyata lebih kuat organisasinya dan memperoleh tanggapan luas dari masyarakat, sehingga dalam waktu singkat organisasinya telah berkembang dari kota-kota hingga ke kampong dan desa-desa, jumlah anggotanya meningkat dengan pesat. 
  • Kemajuan pesat tersebut tak lepas dari system Majelis Pembimbing (Mabi) yang dijalankan oleh Gerakan Pramuka di setiap tingkat, baik dari tingkat nasional hingga ke tingkat gugusdepan (Gudep). 
  • Mengingat bahwa 80% penduduk Indonesia tinggal di desa dan 75% adalah keluarga petani, maka pada tahun 1961 Kwartir Nasional menganjurkan supaya para Pramuka menyelenggarakan kegiatan di bidang pembangunan masyarakat desa. 
  • Anjuran tersebut dilaksanakan terutama di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Jawa Barat telah mampu menarik perhatian pemimpin-pemimpin masyarakat Indonesia. Pada tahun 1966, Menteri Pertanian dan Ketua Kwartir Nasional mengeluarkan instruksi bersama tentang pembentukan Satuan Karya Pramuka (Saka) Tarunabumi. Saka Tarunabumi dibentuk dan diselenggarakan khusus untuk memungkinkan adanya kegiatan Pramuka di bidang pendidikan cinta pembangunan pertanian dan pembangunan masyarakat desa secara lebih nyata dan intensif. Kegiatan Saka Tarunabumi ternyata telah membawa pembaharuan, bahkan membawa semangat untuk mengusahakan penemuan-penemuan baru (inovasi) pada pemuda desa yang selanjutnya mampu mepengaruhi seluruh masyarakat desa. 
  • Model pembentukan Saka Tarunabumi kemudian berkembang menjadi pembentukan Saka lainnya seperti Saka Dirgantara, Saka Bahari dan Saka Bhayangkara. Anggota Saka-saka tersebut terdiri dari para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega yang memiliki minat di bidangnya. Pramuka Siaga dan Penggalang tidak ikut dalam Saka tersebut. Para Pramuka Penegak dan Pandega yang tergabung dalam Saka menjadi instruktur di biangnya bagi adik-adik dan rekan-rekannya di gudep. 
  • Perluasan kegiatan Gerakan Pramuka yang berkembang pesat hingga ke desa-desa, terutama kegiatan di bidang pembangunan pertanian dan masyarakat desa, dan pembentukan Saka Tarunabumi menarik perhatian badan internasional seperti FAO, UNICEF, UNESCO, ILO dan Boys Scout World Bureau.
Semoga tulisan Sejarah Kepanduan Menjadi Pramuka di Indonesia Bermanfaat bagi sahabat tunas kelapa semuanya. Jangan lupa untuk dibagikan kepada sahabat kita yang lain. Salam Pramuka


Sejarah Kepramukaan di Indonesia

Sejarah Kepramukaan di Indonesia - Lahirnya Gerakan Pramuka tentu tidak serta merta lahir sebagai organisasi biasa, termasuk di Indonesia bagaimana Sejarahnya Pramuka yang dulu disebut dengan pandu lahir dan berkembang di Indonesia akan dibahas pada artikel materi pramuka kali ini

Sejarah Singkat Gerakan Pramuka Dari Gerakan Kepanduan Ke Gerakan Pramuka

Sejarah merupakan cermin bagi keadaan sekarang. Sejarah merupakan sumber pemikiran dan pembelajaran dalam mengembangkan tujuan-tujuan yang akan datang.


Kepramukaan Masa Hidia Belanda
  • Tahun 1908, Mayor Jenderal Robert Baden Powell melancarkan suatu gagasan tentang pendidikan luar sekolah untuk kanak-anak Inggris, dengan tujuan agar menjadi manusia Inggris, warga Inggris dan anggota masyarakat Inggris yang baik sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kerajaaan Inggris Raya ketika itu.
  • Untuk itu beliau mengarang sebuah buku yang terkenal yaitu “Scouting for Boys”. Buku ini berisi pengalaman beliau dan latihan apa yang diperlukan yang diperlukan para Pramuka.
  • Gagasan Boden Powell dinilai cemerlang dan sangat menarik sehingga banyak diikuti dan didirikan kepanduan di negara-negara lain. Diantaranya di negeri Belanda dengan nama Padvinder atau Padvinderij.
  • Oleh orang Belanda, gagasan kepanduan di bawa dan dilaksanakan di sini (Nederlands OOst Indie), dengan mendirikan Nederland Indischie Padvinders Vereeniging (NIPV) atau Persatuan Pandu-pandu Hindia-Belanda.
  • Oleh pemimpin-pemimpin di dalam pergerakan nasional, gagasan Baden Powell dimabil alih dengan membentuk organisasi-organisasi kepanduan yang bertujuan membentuk manusia Indonesia yang baik yaitu sebagai kader Pergerakan Nasional. Pada saat itu mulailah bermunculan organisasi-organisasi kepanduan diantaranya Javanse Padvinders Organizatie (JPO), Jong Java Padvinderij (JJP), National Islamitje Padvinderij (NATIPIJ), Sarikat Islam Afdeling Padvinderij (SIAP), Hizbul Wathan (HW) dan lain sebagainya.
  • Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, benar-benar telah menjiwai gerakan kepanduan nasional Indonesia untuk lebih bergerak maju. Pemerintah Hindia Belanda melarang penggunaan istilah Padvinder dan Padvinderij untuk organjisasi kepanduan di luar NIPV.
  • Dengan meningkatkan kesadaran nasional Indonesia, maka timbullah niat untuk persatuan antara organisasi-organisasi kepanduan. Pada tahun 1930 muncullah Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) yang merupakan gabungan dari organisasi kepanduan Indonesische Padvinders Organizatie (INPO), Pandu Kesultanan (PK) dan Pandu Pemuda Sumatera (PPS). Pada tahun 1931 terbentuk federasi kepanduan dengan nama Persatuan Antar Pandu-pandu Indonesia (PAPI), yang kemudian berubah menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI) pada tahun 1938.
Pramuka Pada Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan Jepang (PD II), penguasa Jepang di Indonesia melarang keberadaan organisasi kepanduan di Indonesia di larang adanya. Tokoh-tokoh kepanduan banyak yang masuk dalam organisasi Seinendan, Keibodan dan Pembela Tanah Air (PETA).

Kepramukaan di Masa Perang Kemerdekaan
Dengan diproklamasikan kemerdekaan 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia bahu membahu mempertahankan kemerdekaan.  Seiring dengan itu, pada tanggal 28 Desember 1945 di Surakarta berdiri Pandu Rakyat Indonesia (PARI) sebagai satu-satunya organisasi  kepanduan di wilayah Republik.